Bawaslu: Kami Tidak Butuh Pujian Media, Kami Butuh Kritik yang Konstruktif
|
Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) menggelar Media Gathering bersama insan pers di Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). Kegiatan dengan tema “Refleksi Kepemimpinan Bawaslu Jelang 5 Tahun” menjadi ruang refleksi sekaligus memperkuat kolaborasi Bawaslu dan media dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia.
Kegiatan tersebut diikuti jurnalis nasional maupun jurnalis lokal Pangandaran. Dalam sambutannya, pimpinan Bawaslu menegaskan pentingnya peran media sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat sekaligus memberikan kontrol terhadap kinerja lembaga.
“Teman-teman jurnalis sangatlah penting, karena kepercayaan publik sangat tinggi sebagai penyampai informasi yang sangat bisa dipercayai,” ujarnya.
Momentum Refleksi Bawaslu 2022–2027
Ia menjelaskan, kegiatan ini menjadi momentum penting mengingat tahapan Pemilu 2024 telah selesai dan masa kepemimpinan Bawaslu periode 2022–2027 akan segera berakhir.
Menurutnya, refleksi perlu dilakukan ketika lembaga berada di luar hiruk-pikuk tahapan Pemilu sehingga evaluasi dapat dilakukan secara lebih objektif dan jernih.
“Di luar masa tahapan, saya meyakini kita semua menjadi lebih jernih melihat karena sudah berjarak untuk bisa memberikan kritik yang bersumber dari akal sehat kita,” katanya.
Ia menambahkan, refleksi kelembagaan tidak dapat dilakukan hanya oleh internal Bawaslu. Masukan dari mitra kerja, masyarakat, dan media menjadi bagian penting untuk melihat capaian maupun kekurangan Bawaslu selama menjalankan mandat pengawasan Pemilu.
Media Bukan Sekadar Mitra Publikasi
Dalam kesempatan tersebut, Bawaslu menekankan bahwa hubungan dengan media harus dibangun dalam kerangka kolaborasi yang sehat dan tetap kritis.
Jurnalis diharapkan tidak hanya menjadi penyampai informasi mengenai kegiatan Bawaslu, tetapi juga menjadi pihak yang mampu menguji dan memberikan kritik terhadap kinerja lembaga.
“Bawaslu tidak memerlukan pujian media. Yang Bawaslu butuhkan adalah media menjadi kawan untuk mewartakan apa yang dikerjakan oleh Bawaslu. Kalau baik, sepatutnya diapresiasi; kalau kurang, sepatutnya dipertanyakan; kalau keliru, sepatutnya dikritik,” tegasnya.
Menurutnya, kedekatan antara Bawaslu dan media harus tetap berada dalam koridor profesional, independen, dan kritis demi kepentingan publik.
Empat Penguatan Kelembagaan
Dalam forum tersebut, disampaikan sejumlah capaian Bawaslu periode 2022–2027 dalam memperkuat kelembagaan, khususnya dalam aspek pencegahan, pengawasan partisipatif, komunikasi publik, dan pengawasan Pemilu yang inklusif.
Pertama, Bawaslu telah berupaya membangun sistem pencegahan yang lebih terukur dan adaptif, yang diperkuat melalui regulasi internal, surat edaran, serta keputusan kelembagaan.
Kedua, Bawaslu mendorong pengawasan partisipatif dari sekadar program menjadi gerakan. Ukuran keberhasilannya tidak hanya dilihat dari jumlah kader atau peserta, tetapi juga aktivitas serta dampak nyata yang dihasilkan masyarakat.
“Dari sifatnya kuantitatif, kita dorong menjadi sebuah gerakan,” ujarnya.
Ketiga, Bawaslu membangun standar komunikasi publik dan kehumasan, termasuk pola hubungan dengan media serta mekanisme komunikasi dalam menghadapi situasi krisis.
Keempat, Bawaslu mendorong pengawasan Pemilu yang inklusif sebagai bagian dari upaya merawat kepercayaan publik. Salah satunya melalui Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di lingkungan Bawaslu.
“Demokrasi itu nilainya tidak boleh diskriminatif dan tidak boleh ada kekerasan di dalamnya,” katanya.
Tiga Harapan dari Forum Media
Melalui Media Gathering tersebut, Bawaslu berharap dapat menghasilkan tiga hal utama, yaitu refleksi yang jujur terhadap perjalanan kepemimpinan periode 2022–2027, masukan yang kritis untuk penguatan demokrasi ke depan, serta komitmen bersama dalam menjaga dan membangun ekosistem demokrasi Indonesia.
Bawaslu memandang media sebagai bagian penting dari ekosistem demokrasi. Kolaborasi antara lembaga pengawas Pemilu dan insan pers diharapkan dapat terus terbangun dengan prinsip keterbukaan, profesionalitas, independensi, dan kepentingan publik.
Kegiatan kemudian secara resmi dibuka dengan diskusi bertema “Refleksi Kepemimpinan Bawaslu Jelang 5 Tahun” sebagai ruang bertukar pandangan antara Bawaslu dan insan pers mengenai perjalanan kelembagaan sekaligus tantangan demokrasi Indonesia ke depan.
Penulis : Risky Heda (Staf Humas Bawaslu Kabupaten Manokwari
Editor : Kasubbag SDM & Administrasi, Bernad Menanti
Dokumentasi : Jaka Fajar ( Humas Bawaslu Jawa Barat )